BANGGA DAPAT MEMBASUH KAKI ORANG LAIN (renungan Kamis Putih, 9 April 2009)

April 9, 2009 at 3:36 am Leave a comment

Bacaan: Yohanes 13:1-17

Saat akan membanyar parkir, saya sempat bertanya dengan tukang parkir itu: ”Mas, sudah nyontreng?” ”Saya golput kok.” katanya. ”Lho… kok golput?” tanya saya. Dia menjawab: ”Ya… kalau ikut milih, ya tetap jadi tukang pakir, ndak milih pun tetap jadi tukang parkir, percuma aja deh. Dulu untuk milih saya dapat duit dua puluh lima ribu rupiah, sekarang ndak dapat apa-apa mas. Jadi malas, mending markir.” Saya kira dia tahu, apa yang harus dia lakukan sebagai warga negara yang sudah memiliki hak pilih, karena pertimbangan untung-rugi maka dia memilih tidak memilih, alias golput.

Sering kita tahu, bahwa ini salah dan itu yang benar. Tetapi mengapa yang kita lakukan justru yang salah? Saya tidak mengatakan bahwa golput itu salah, karena golput merupakan sebuah pilihan. Dalam banyak kasus, kita tahu itu yang benar, tetapi dengan sengaja kita memilih yang salah. Ya… ada banyak pertimbangan tentunya: mungkin malas, gengsi, merasa jijik atau pertimbangan untung-rugi.

Menjelang Paskah, Yesus kembali diperhadapkan dengan pilihan: terus untuk taat pada kehendak Bapa, atau mundur saja. Kalau terus berarti menyongsong kesengsaraan, direndahkan dan mati dengan cara tidak terhormat, bahkan mati dengan cara sangat terhina sesuai hukuman yang berlaku pada zamannya. Yesus memilih yang benar, karena itu disaksikan di Filipi 2:8-11 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Melalui perendahan diri, Yesus mendapat kemuliaan.

Berarti sebelum peristiwa pembasuhan kaki, Tuhan Yesus pun sudah tahu bahwa kemuliaan yang akan Dia dapat sudah dekat. Kesadaran demikian mungkin membuat Dia merasa bangga. Tetapi hal yang luar biasa ditunjukkan pada manusia, di saat kebanggaan tertinggi akan Dia dapatkan, justru di saat itulah Dia merendahkan diri sedalam-dalamnya. Itulah cinta kasih yang sesungguhnya. Terkadang orang merasa terlalu terhormat untuk melakukan hal-hal yang rendah, merasa terlalu penting untuk melakukan tugas-tugas yang kasar. Tidaklah demikian dengan Yesus. Dia tahu bahwa Dia adalah Tuhan segala sesuatu, namun demikian Dia membasuh kaki murid-muridNya. (Willian Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Yohanes ps. 8-21)

Tuhan Yesus tidak merasa jijik dan rugi, sekalipun Dia harus membasuh kaki murid-muridNya. Kita tidak tahu, seberapa kotor dan baunya kaki dari murid-murid itu, tetapi hal itu tidak dipikirkan. Ia bangkit, menanggalkan jubahNya. Ia tidak ingin, dalam melanyani, ada pembatas antara guru dan murid. Melayani itu sebuah inisiatif mendahului memberi dalam perbuatan kasih yang paling hina sekalipun menurut ukuran manusia. Yesus mengambil sehelai kain lenan, mengikatkannya pada pinggaNya dan menuangkan air di baskom. Yesus tidak mengambil tongkat komando, untuk menggerakkan massa melawan mereka yang tidak setuju dengan kelompokNya. Ia mengambil barang yang sederhana dan bisa didapat untuk memberi pelayanan yang manusia enggan melakukannya. Tuhan Yesus bukan saja membasuh kaki, tetapi juga menyekanya hingga bersih. Sebuah tindakan pelayanan hingga tuntas.

Saat ini, ada banyak yang menuntut kepedulian kita. Mereka yang tidak sempat mencuci kaki apalagi merawatnya, mereka yang tidak memiliki waktu cukup untuk memijatkan kakinya karena selalu dituntut untuk menggerakkan kakinya demi sesuap nasi. Mereka yang bingung kemana lagi kaki ini harus dilangkahkan, karena tempat tinggal mereka telah digusur atau hancur karena bencana. Dan saat kita tahu yang benar, serta dilakukan dengan hati yang tulus, itulah bentuk pelayanan yang akan mampu menggetarkan hati untuk makin percaya pada Tuhan Yesus.

Makin kita dekat dengan Tuhan, makin rindu dan nyata tindakan kita berbuat kasih dalam kehidupan ini.

ESTK

Entry filed under: RENUNGAN. Tags: .

Khotbah Minggu Palmarum, 5 April 2009 PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA DAN KINERJA PELAYAN GEREJA GKI PAJAJARAN MAGELANG melalui KANTOR dan KERUMAHTANGGAAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Artikel Terbaru

Komentar terbaru

Edward Manalu on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
abraham on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
Eka Setiawan on MATA
tori on MATA

Arsip artikel

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: