Khotbah Minggu Palmarum, 5 April 2009

April 4, 2009 at 5:42 am Leave a comment

TIADA KETAATAN TANPA PENGORBANAN

Yesaya 50:4-9; Mazmur 31:8-16; Filipi 2:5-11; Markus 14:32-50

Mengapa saat lampu merah menyala, kita taat untuk berhenti? Tentu ada diantara kita akan menjawab: karena takut ditilang. Ini sebuah contoh: ketaatan yang semu. Taat karena takut kena hukuman. Karena itu mereka yang memiliki kuasa dan kebal terhadap hukum atau dapat membeli hukum, tidak takut untuk melanggar alias tidak taat.

Saat membaca Filipi 2:5-11 dan Markus 14:32-50, kita dapat menghayati suatu teladan ketaatan yang akan membangkitkan kecintaan kita pada Tuhan Yesus. Dan ketaatan itu bukan ketaatan semu, tetapi didasari oleh kesadaran dan cinta kasih yang tulus.

Tuhan Yesus menunjukkan pada kita, bahwa ketaatan itu memerlukan:

1. Kesadaran akan kedudukan atau posisi diri.

Di Filipi 2:6 dikatakan: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

Tuhan Yesus sadar betul bahwa Dia adalah Allah yang sungguh mengasihi manusia. Dia tidak ingin manusia binasa, karena itu Dia rela menanggalkan status ke-Allah-annya untuk dapat menjadi Juruselamat manusia.

Dengan menyadari kedudukan atau posisi diri, akan memampukan kita untuk dapat menempatkan diri dengan benar.

2. Penyangkalan diri

Tuhan Yesus sadar, bahwa untuk menyelamatkan manusia bukan perkara mudah. Dia berkata kepada para murid yang diminta untuk menemaniNya: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” (Mrk.14:32). Ada kegentaran dari diri Yesus, saat menjelang hari H. Tetapi Ia berkata: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk.14:36). Yesus mampu melawan keakuannya, keinginan diriNya untuk terus dengan taat melaksanakan kehendak Bapa.

Penyangkalan diri itu berarti melawan keakuan: kesombongan, kemalasan, rasa mengasihi diri dan takut.

3. Ketulusan hati

Tidak ada yang menyangkal, kalau Tuhan Yesus mau, Dia dapat untuk tidak menuju salib. Tetapi karena cintaNya pada manusia, Dia rela merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).

Ketulusan hati itu berarti tindakan untuk tidak mencari keuntungan pribadi.

4. Ketaatan yang konsisten untuk bertumbuh

Di Yesaya 50:5 tertulis: Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku disini menunjuk pada Yesus. Dan pada kenyataannya Yesus terus maju, dengan taat Dia melaksanakan apa yang dikehendaki Bapa.

Iblis tidak menghendaki Tuhan Yesus disalib, bila itu terjadi, maka kehendak Bapa untuk menebus manusia terwujud. Dengan berbagai upaya, Iblis berusaha menggagalkan rencana itu. Pada sebuah penangkapan yang terjadi di sebuah taman, yang berawal dari sebuah ciuman. Ini bukan ciuman biasa, kata Yunani untuk ciuman ini ialah katafilein yang mengandung makna seorang kekasih mencium orang yang dikasihinya. Kesengsaraan dan penyaliban Yesus berawal dari ciuman seorang kekasih. Ini merupakan hal memilukan dan menyakitkan. Tetapi Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan ciuman itu, Dia terus maju, dengan ketaatan penuh pada Bapa, Dia membiarkan diri ditangkap untuk menyatakan kasihNya pada manusia.

5. Ketika kita menyatakan diri untuk mau taat, berarti siap untuk mau atau rela terluka.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. (Yes. 50:6)

Tuhan Yesus telah menunjukkan pada kita, bahwa tiada ketaatan tanpa pengorbanan. Dia taat pada kehendak Bapa karena kasih-Nya pada manusia. Tuhan Yesus tidak menghendaki kita binasa, tetapi Dia ingin kita beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).

Mungkin kita berkata: ”Sulit untuk taat.” Betul, tidak ada yang menyangkal bahwa untuk taat itu sulit dan bukan hanya sulit, tetapi menyakitkan. Tetapi sadarilah bahwa kebahagiaan yang tak terkatakan telah menanti kita yang taat pada kehendak Bapa sampai akhir. Tuhan Yesus sudah mengalami itu untuk memberi kebahagiaan pada manusia.

ESTK

Entry filed under: Khotbah Minggu. Tags: .

MUNDUR SAJA! BANGGA DAPAT MEMBASUH KAKI ORANG LAIN (renungan Kamis Putih, 9 April 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Artikel Terbaru

Komentar terbaru

Edward Manalu on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
abraham on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
Eka Setiawan on MATA
tori on MATA

Arsip artikel

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: