PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA DAN KINERJA PELAYAN GEREJA GKI PAJAJARAN MAGELANG melalui KANTOR dan KERUMAHTANGGAAN

I. PENGANTAR

Harus disadari bahwa lancarnya pelayanan, komunikasi dan kegiatan gereja sangat ditunjang oleh kinerja kantor, kerumahtanggan dan para pelayanannya. Di saat seseorang, baik anggota, simpatisan maupun masyarakat, membutuhkan pelayanan, informasi dan bantuan dapat diperoleh dari kantor gereja. Karena segala bentuk pelayanan, informasi dan bantuan datangnya pertama-tama dari kantor gereja, karena kantorlah yang pertama-tama dapat dijumpai dan pusat informasi awal kehidupan bergereja. Oleh sebab itu, kantor harus ditunjang oleh pelayan yang memahami bidang kerjanya, suasana kerja yang disiplin, dan suasana kantor yang tidak membuat orang enggan untuk datang baik untuk bertanya, mendapat informasi dan bantuan pelayanan.

Perlu disadari bahwa dunia berkembang dengan cepat dan mau tidak mau orang pun terdorong oleh kecepatan itu. Sehingga orang pun membutuhkan pelayanan yang cepat dan akurat sesuai dengan yang dibutuhkan dan diinginkan. Gereja ada dan hidup karena Tuhan, tetapi perlu disadari bahwa Tuhan pun mengutus dan mempercayakan kepada umatNya untuk memakai, memelihara dan mengembangkan gereja. Karena itu dari sekian banyak anggota dipilih beberapa orang untuk diberi kepercayaan memelihara dan mengembangkan gereja. Tetapi karena tuntutan hidup sekarang membuat orang harus berpacu dengan kesempatan dan waktu, membuat orang sulit (bukan berarti tidak bisa) berpikir dan bertindak diluar pekerjaannya. Situasi seperti ini pun berimbas dan harus dihadapi oleh beberapa orang yang dipilih dan dipercaya tersebut. Karena situasi seperti inilah maka gereja pun perlu berpikir untuk mempekerjakan orang-orang secara profesional menurut bidang pelayanan yang dibutuhkan.

II. PENGEMBANGAN

Sebuah kantor dan kerumahtanggaan gereja yang diharapkan dapat menunjang pelayanan dan dirasakan manfaatnya baik oleh anggota, simpatisan dan masyarakat perlu ditunjang oleh pelayan yang memahami dan menguasai bidang kerjanya serta ditunjang oleh etos kerja yang disiplin. Untuk itu, bukan zamannya lagi, seseorang dituntut untuk bisa menguasai dan mengerjakan pekerjaan borongan. Perlu ada pengkhususan kerja tiap pelayan yang disesuaikan dengan bidang pelayanan yang ada dan akan dikembangkang.

GKI Pajajaran Magelang merupakan gereja yang telah berusia tua (2 September 2009 berusia 75 tahun) dan anggota tercatat + 2.000 orang dengan kebutuhan pelayanan yang komplek dan kegiatan yang sangat banyak. Kantor dan kerumahtanggaan pun semakin dituntun untuk dapat memberikan bantuan dan informasi yang cepat dan akurat.

Pelayan Yang Dibutuhkan dan Garis besar Tugasnya:

1. Fungsi dan Tugas SEKUM MJ GKI Pajajaran Magelang

Pada prinsipnya fungsi dan tugas sekretaris umum Majelis Jemaat GKI Pajajaran Magelang adalah fungsi dan tugas Pejabat Gerejawi yang mengacu dari Tata Gereja Gereja Kristen Indonesia: (Tata Dasar)

Pasal 9.2. Penatua dan Pendeta berfungsi memimpin gereja.

3. Fungsi kepemimpinan penatua dan pendeta diwujudkan dalam kerangka pembangunan gereja.

Pasal 10.2.a. Majelis Jemaat bertugas memimpin Jemaat agar Jemaat melaksanakan pembangunan gereja pada lingkup Jemaat untuk mencapai tujuan GKI di lingkup Jemaat.

Untuk mencapai fungsi dan tugas tersebut, maka tugas sekum dibuat sebagai berikut:

a. Melaksanakan koordinasi, konsolidasi dan pengendalian kegiatan jemaat.

b. Melaksanakan koordinasi dan konsolidasi kegiatan pelayan (baca: karyawan)

c. Melakukan pengaturan penyelenggaraan rapat-rapat Majelis Jemaat (PMJ, BPMJ dan Bidang) dan bertanggung jawab atas pelaksanaan serta menghadirinya.

d. Mempersiapkan bahan-bahan Persidangan Majelis Jemaat.

e. Membuat kalender pelayanan Majelis Jemaat dan mengingatkan pelaksanaannya secara berkala.

f. Mengelola administrasi jemaat meliputi pengelolaan dokumen jemaat dan pengarsipannya.

g. Mendokumentasikan kegiatan jemaat.

h. Mengumpulkan laporan pelaksanaan dan evaluasi program kerja jemaat dari tiap bidang.

i. Bersama bidang 1, mempersiapkan penjadwalan kebaktian minggu (Pengkhotbah, Pejabat Gerejawi, Penyambut Pengunjung Kebaktian, PNK).

j. Mempersiapkan dan bertanggung jawab atas sampainya tanda terima kasih kepada Para Pelayan (Pengkhotbah) yang diminta dan diketahui bendahara 2.

k. Mewakili Majelis Jemaat menghadiri undangan yang telah diputuskan dalam PMJ (kecuali hal yang mendesak cukup persetujuan Ketua Umum).

l. Memberikan usulan untuk perbaikan tugas sekum dan pembagian tugas pelayan (baca: karyawan) gereja.

m. Melaporkan tugas dan kegiatannya pada setiap rapat rutin BPMJ.

n. Sebagai Ex Efficio di tiap bidang.

o. Tunduk pada keputusan PMJ.

2. KEPALA KANTOR (administrasi, perencanaan dan kasir)

a. Menerima surat dan mendistribusikan kepada yang berwenang.

b. Mengingatkan pengkhotbah dan menginformasikan tema serta lagu untuk kebaktian Minggu maupun khusus.

c. Mengatur pendampingan pengkhotbah dari luar.

d. Menerima dan meneruskan kepada KKD, serta mengatur permohonan pelayanan kebaktian duka.

e. Menerima permohonan peneguhan dan pemberkatan nikah serta meneruskan pada Sekum.

f. Menerima dan mengatur permohonan donor darah.

g. Mengatur pemakaian telp/fax, listrik, air dan fasilitas kantor yang lain.

h. Bertanggung jawab atas isi dan penerbitan warta jemaat (baik lisan maupun tertulis) serta dikonsultasikan dengan sekum.

i. Menyetujui konsep surat dan/atau undangan yang dibuat oleh Penata Usaha dan dimintakan tandatangan pada yang bersangkutan.

j. Bersama sekum dan kepala kerumahtanggaan membuat jadwal kerja setiap satu bulan sekali sesuai rencana kerja yang telah disetujui dalam rapat kerja dan dilaporkan ke rapat BPMJ terdekat cq ketua umum.

k. Bersama sekum dan kepala kerumahtanggaan membuat rencana kebutuhan kantor untuk satu bulan kedepan dan dilaporkan kepada Bendahara 2 sebelum tanggal 25.

l. Bertanggung jawab atas pengeluaran kebutuhan kantor cq Bendahara dua.

m. Membantu Bendahara dua mendistribusikan persembahan untuk Badan Pelayanan Jemaat dan orang yang dituju.

n. Membantu mengirimkan sumbangan-sumbangan dan bantuan-bantuan yang telah ditentukan.

o. Bertanggung jawab atas pekerjaan Penata Usaha.

p. Mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada MJ cq Sekum.

q. Tunduk pada keputusan PMJ.

3. KEPALA KERUMAHTANGGAAN (pengaturan ruangan, peme-liharaan gedung dan inventarisasi)

a. Membuat rencana pemanfaatan ruangan baik di GKI Pajajaran Magelang Jl. Pajajaran 27, maupun di Jl. Pajang 32, Magelang.

b. Mengatur dan mempersiapkan pemakaian ruangan di gedung gereja maupun di Jl. Pajang 32, Magelang untuk kegiatan kejemaatan.

c. Bertanggung jawab atas pemeliharaan gedung gereja, dan semua bangunan yang dimiliki oleh GKI Pajajaran Magelang (kecuali bangunan yang berkaitan dengan YPKI).

d. Bertanggung jawab atas terpeliharanya kebersihan dan keindahan lingkungan gereja.

e. Bertanggung jawab untuk mengatur pemakaian inventaris (kendaraan, sound sistem, LCD proyektor, kursi dll.) serta pemeliharaannya.

f. Mencatat dan memperbaharui data inventaris, dan dilaporkan pada MJ Bidang IV, setiap dua bulan pada tanggal 28.

g. Bersama sekum dan kepala kantor membuat jadwal kerja setiap satu bulan sekali sesuai rencana kerja yang telah disetujui dalam rapat kerja dan dilaporkan ke rapat BPMJ terdekat cq ketua umum.

h. Bersama sekum dan kepala kantor membuat rencana kebutuhan kerumahtanggaan untuk satu bulan kedepan dan dilaporkan kepada Bendahara 2 sebelum tanggal 25.

i. Bertanggung jawab atas kinerja pelayan (baca: karyawan) di bawah koordinasinya.

j. Mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada MJ cq Sekum.

k. Tunduk pada keputusan PMJ.

4. PENATA USAHA (data & pengarsipan)

a. Mengkonsep, membuat surat-surat keluar dan undangan atas permintaan Kepala Kantor.

b. Bertanggung jawab atas sampainya surat dan undangan pada alamat yang dituju.

c. Mengarsip surat keluar dan surat masuk.

d. Mengarsip, memperbaharui dan membuat statistik data anggota.

e. Membuat statistik pengunjung kebaktian minggu.

f. Mempersiapkan dan membuat warta jemaat yang akurat dan bertanggung jawab.

g. Mengerjakan order MJ Bidang dan Bapel-bapel atas persetujuan Kepala Kantor.

h. Mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada MJ cq Kepala Kantor.

i. Tunduk pada keputusan PMJ.

Catatan: Membantu kelancaran Tim Multimedia.

5. KOSTER

a. Bertanggung jawab atas kebersihan, keindahan dan kerapian gedung gereja dan sekitarnya.

b. Mempersiapkan ruangan yang akan digunakan untuk segala bentuk pertemuan.

c. Membantu kegiatan yang sedang berlangsung.

d. Bertugas mengantarkan hal-hal yang perlu diantarkan, misal: surat-surat, undangan, jadwal dll.

e. Membantu kelancaran pekerjaan kantor, misal: melipat surat, memberi nama, memberi prangko dll.

f. Mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada kepala kerumahtanggaan.

g. Tunduk pada keputusan PMJ.

6. PETUGAS KEAMANAN

a. Bertanggung jawab atas keamanan di komplek Gereja.

b. Sebagai resepsionis.

c. Membantu kelancaran pekerjaan kantor, misal: melipat surat, memberi nama, memberi prangko dll.

d. Mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada kepala kerumahtanggaan.

e. Tunduk pada keputusan PMJ.

Catatan:

Penomeran pembagian tugas di atas bukan berdasarkan tingkat kepentingan.

III. PENGEMBANGAN KINERJA PELAYAN

Kantor dan pelayanan dapat berjalan dengan baik dan mendatangkan berkat turut ditentukan oleh kinerja pelayan yang takut akan Tuhan, berdedikasi, mengetahui, menyadari, dan berdisiplin atas bidang kerjanya. Melihat pentingnya peran pelayan dalam pelayanan gereja, maka mereka pun perlu berkembang dalam iman dan pengetahuan. Oleh karena itu untuk pengembangan kinerja pelayan diperlukan hal-hal sebagai berikut:

1. Training awal tentang fungsi dan peran pelayan.

2. Pembinaan bersinambung tentang fungsi dan peran pelayan.

3. Evaluasi berkala dalam suasana gembira tentang kinerja pelayan.

4. Seluruh pelayan wajib mengikuti kebaktian minggu dan pembinaan yang diadakan.

5. Gaji yang memadai.

6. Secara berkala ada rekreasi seluruh pelayan bersama keluarga.

7. Staf pelayan harus mengajukan program pengembangan kantor gereja, kerumahtanggaan dan kinerja pelayan gereja.

Pengembangan kinerja pelayan ini masih perlu dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan pelayanan. Sebagai indikasi awal berkembangnya pelayanan yang mendatangkan berkat, salah satunya dapat dilihat dari berkembangnya kinerja pelayan.

IV. BAGAN PELAYANAN JEMAAT

bagan-pelayanan-jemaat1

Bagan ini dibuat untuk menunjukkan di mana posisi kita sebagai gereja di tengah masyarakat dan fungsi serta peran sebagai gereja. Bagan ini dibuat tidak mengikuti struktur organisasi garis vertikal dan atau horisontal, tetapi lingkaran yang meluas. Hal ini mau menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih tinggi-berkuasa dibanding yang lain dan perlu disadari bahwa gereja ada di tengah masyarakat, karena dia dipanggil untuk menjadi terang dan garam atau dalam arti menjadi berkat melalui pelayanannya di tengah masyarakat.

Sebagai gereja yang terpanggil untuk melayani dan menjadi berkat, perlu pengaturan kerja yang teratur untuk pelayanan itu sendiri. Karena itu, di bagan ini diatur demikian: MJ berada di lingkaran paling kecil, karena dia dipilih dan dipercaya di antara sekian banyak anggota untuk membina dan memperlengkapi anggota untuk makin mengenal, dekat dengan Tuhan dan tahu kehendakNya. Boleh dikatakan bahwa MJ merupakan as dari roda kehidupan bergereja. Karena tanggung jawabnya pada gereja dan kesibukan kesehariannya di tengah masyarakat dan kehidupan pribadi, maka dia membutuhkan orang-orang yang dapat membantu memperlancar tanggung jawab pelayanannya. Karena itu dipekerjakan secara profesional beberapa orang sesuai bidang kebutuhan pelayanan, dengan tanggung jawab imbal jasa/gaji dari jemaat.

V. STRUKTUR KERJA DAN HUBUNGAN KERJA

struktur-kerja-dan-hubungan-kerja1


VI. PENUTUP

Konsep pengembangan pelayan gereja dan kinerja pelayan gereja GKI Pajajaran Magelang dibuat agar pelayanan gereja semakin baik dan dengan suasana kerja yang penuh syukur. Tentunya konsep ini masih banyak kekurangan yang masih perlu untuk terus disempurnakan. Dan konsep ini akan tetap konsep selama tidak ada tindakan nyata untuk merealisasikannya.

25 Maret 2009

Advertisements

April 16, 2009 at 2:55 am 2 comments

BANGGA DAPAT MEMBASUH KAKI ORANG LAIN (renungan Kamis Putih, 9 April 2009)

Bacaan: Yohanes 13:1-17

Saat akan membanyar parkir, saya sempat bertanya dengan tukang parkir itu: ”Mas, sudah nyontreng?” ”Saya golput kok.” katanya. ”Lho… kok golput?” tanya saya. Dia menjawab: ”Ya… kalau ikut milih, ya tetap jadi tukang pakir, ndak milih pun tetap jadi tukang parkir, percuma aja deh. Dulu untuk milih saya dapat duit dua puluh lima ribu rupiah, sekarang ndak dapat apa-apa mas. Jadi malas, mending markir.” Saya kira dia tahu, apa yang harus dia lakukan sebagai warga negara yang sudah memiliki hak pilih, karena pertimbangan untung-rugi maka dia memilih tidak memilih, alias golput.

Sering kita tahu, bahwa ini salah dan itu yang benar. Tetapi mengapa yang kita lakukan justru yang salah? Saya tidak mengatakan bahwa golput itu salah, karena golput merupakan sebuah pilihan. Dalam banyak kasus, kita tahu itu yang benar, tetapi dengan sengaja kita memilih yang salah. Ya… ada banyak pertimbangan tentunya: mungkin malas, gengsi, merasa jijik atau pertimbangan untung-rugi.

Menjelang Paskah, Yesus kembali diperhadapkan dengan pilihan: terus untuk taat pada kehendak Bapa, atau mundur saja. Kalau terus berarti menyongsong kesengsaraan, direndahkan dan mati dengan cara tidak terhormat, bahkan mati dengan cara sangat terhina sesuai hukuman yang berlaku pada zamannya. Yesus memilih yang benar, karena itu disaksikan di Filipi 2:8-11 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Melalui perendahan diri, Yesus mendapat kemuliaan.

Berarti sebelum peristiwa pembasuhan kaki, Tuhan Yesus pun sudah tahu bahwa kemuliaan yang akan Dia dapat sudah dekat. Kesadaran demikian mungkin membuat Dia merasa bangga. Tetapi hal yang luar biasa ditunjukkan pada manusia, di saat kebanggaan tertinggi akan Dia dapatkan, justru di saat itulah Dia merendahkan diri sedalam-dalamnya. Itulah cinta kasih yang sesungguhnya. Terkadang orang merasa terlalu terhormat untuk melakukan hal-hal yang rendah, merasa terlalu penting untuk melakukan tugas-tugas yang kasar. Tidaklah demikian dengan Yesus. Dia tahu bahwa Dia adalah Tuhan segala sesuatu, namun demikian Dia membasuh kaki murid-muridNya. (Willian Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Yohanes ps. 8-21)

Tuhan Yesus tidak merasa jijik dan rugi, sekalipun Dia harus membasuh kaki murid-muridNya. Kita tidak tahu, seberapa kotor dan baunya kaki dari murid-murid itu, tetapi hal itu tidak dipikirkan. Ia bangkit, menanggalkan jubahNya. Ia tidak ingin, dalam melanyani, ada pembatas antara guru dan murid. Melayani itu sebuah inisiatif mendahului memberi dalam perbuatan kasih yang paling hina sekalipun menurut ukuran manusia. Yesus mengambil sehelai kain lenan, mengikatkannya pada pinggaNya dan menuangkan air di baskom. Yesus tidak mengambil tongkat komando, untuk menggerakkan massa melawan mereka yang tidak setuju dengan kelompokNya. Ia mengambil barang yang sederhana dan bisa didapat untuk memberi pelayanan yang manusia enggan melakukannya. Tuhan Yesus bukan saja membasuh kaki, tetapi juga menyekanya hingga bersih. Sebuah tindakan pelayanan hingga tuntas.

Saat ini, ada banyak yang menuntut kepedulian kita. Mereka yang tidak sempat mencuci kaki apalagi merawatnya, mereka yang tidak memiliki waktu cukup untuk memijatkan kakinya karena selalu dituntut untuk menggerakkan kakinya demi sesuap nasi. Mereka yang bingung kemana lagi kaki ini harus dilangkahkan, karena tempat tinggal mereka telah digusur atau hancur karena bencana. Dan saat kita tahu yang benar, serta dilakukan dengan hati yang tulus, itulah bentuk pelayanan yang akan mampu menggetarkan hati untuk makin percaya pada Tuhan Yesus.

Makin kita dekat dengan Tuhan, makin rindu dan nyata tindakan kita berbuat kasih dalam kehidupan ini.

ESTK

April 9, 2009 at 3:36 am Leave a comment

Khotbah Minggu Palmarum, 5 April 2009

TIADA KETAATAN TANPA PENGORBANAN

Yesaya 50:4-9; Mazmur 31:8-16; Filipi 2:5-11; Markus 14:32-50

Mengapa saat lampu merah menyala, kita taat untuk berhenti? Tentu ada diantara kita akan menjawab: karena takut ditilang. Ini sebuah contoh: ketaatan yang semu. Taat karena takut kena hukuman. Karena itu mereka yang memiliki kuasa dan kebal terhadap hukum atau dapat membeli hukum, tidak takut untuk melanggar alias tidak taat.

Saat membaca Filipi 2:5-11 dan Markus 14:32-50, kita dapat menghayati suatu teladan ketaatan yang akan membangkitkan kecintaan kita pada Tuhan Yesus. Dan ketaatan itu bukan ketaatan semu, tetapi didasari oleh kesadaran dan cinta kasih yang tulus.

Tuhan Yesus menunjukkan pada kita, bahwa ketaatan itu memerlukan:

1. Kesadaran akan kedudukan atau posisi diri.

Di Filipi 2:6 dikatakan: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

Tuhan Yesus sadar betul bahwa Dia adalah Allah yang sungguh mengasihi manusia. Dia tidak ingin manusia binasa, karena itu Dia rela menanggalkan status ke-Allah-annya untuk dapat menjadi Juruselamat manusia.

Dengan menyadari kedudukan atau posisi diri, akan memampukan kita untuk dapat menempatkan diri dengan benar.

2. Penyangkalan diri

Tuhan Yesus sadar, bahwa untuk menyelamatkan manusia bukan perkara mudah. Dia berkata kepada para murid yang diminta untuk menemaniNya: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” (Mrk.14:32). Ada kegentaran dari diri Yesus, saat menjelang hari H. Tetapi Ia berkata: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk.14:36). Yesus mampu melawan keakuannya, keinginan diriNya untuk terus dengan taat melaksanakan kehendak Bapa.

Penyangkalan diri itu berarti melawan keakuan: kesombongan, kemalasan, rasa mengasihi diri dan takut.

3. Ketulusan hati

Tidak ada yang menyangkal, kalau Tuhan Yesus mau, Dia dapat untuk tidak menuju salib. Tetapi karena cintaNya pada manusia, Dia rela merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).

Ketulusan hati itu berarti tindakan untuk tidak mencari keuntungan pribadi.

4. Ketaatan yang konsisten untuk bertumbuh

Di Yesaya 50:5 tertulis: Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku disini menunjuk pada Yesus. Dan pada kenyataannya Yesus terus maju, dengan taat Dia melaksanakan apa yang dikehendaki Bapa.

Iblis tidak menghendaki Tuhan Yesus disalib, bila itu terjadi, maka kehendak Bapa untuk menebus manusia terwujud. Dengan berbagai upaya, Iblis berusaha menggagalkan rencana itu. Pada sebuah penangkapan yang terjadi di sebuah taman, yang berawal dari sebuah ciuman. Ini bukan ciuman biasa, kata Yunani untuk ciuman ini ialah katafilein yang mengandung makna seorang kekasih mencium orang yang dikasihinya. Kesengsaraan dan penyaliban Yesus berawal dari ciuman seorang kekasih. Ini merupakan hal memilukan dan menyakitkan. Tetapi Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan ciuman itu, Dia terus maju, dengan ketaatan penuh pada Bapa, Dia membiarkan diri ditangkap untuk menyatakan kasihNya pada manusia.

5. Ketika kita menyatakan diri untuk mau taat, berarti siap untuk mau atau rela terluka.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. (Yes. 50:6)

Tuhan Yesus telah menunjukkan pada kita, bahwa tiada ketaatan tanpa pengorbanan. Dia taat pada kehendak Bapa karena kasih-Nya pada manusia. Tuhan Yesus tidak menghendaki kita binasa, tetapi Dia ingin kita beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).

Mungkin kita berkata: ”Sulit untuk taat.” Betul, tidak ada yang menyangkal bahwa untuk taat itu sulit dan bukan hanya sulit, tetapi menyakitkan. Tetapi sadarilah bahwa kebahagiaan yang tak terkatakan telah menanti kita yang taat pada kehendak Bapa sampai akhir. Tuhan Yesus sudah mengalami itu untuk memberi kebahagiaan pada manusia.

ESTK

April 4, 2009 at 5:42 am Leave a comment

MUNDUR SAJA!

(Artikel ini ditulis oleh Bp. Nindyo Sasongko, pengerja di GKMI Kudus dan diambil dari blognya [dengan persetujuan terlebih dahulu dari Pak Nindyo]. Terima kasih Pak Nindyo.).

Sebagai bagian dari Tim Gembala Jemaat, hari-hari ini saya banyak mendengar keluhan dari para aktivis. Disebut aktivis, karena mereka memang aktif dalam mengambil bagian dalam pelayanan tertentu. Kebanyakan mereka tidak digaji. Secara sukarela mereka melayani. Kalaupun menerima ucapan terima kasih, tidak cucuk dengan yang dikerjakan sebagai tenaga kerja. Seandainya dianggap gaji, gaji itu amat sangat minim sekali. Namun di pihak lain, tuntutan kerja dan tanggung jawab begitu besar. Mereka bahkan harus tekor, mengeluarkan uang ekstra.

Yang paling tidak menyenangkan adalah, mereka dipersalahkan. Yang sebenarnya bukan maksud mereka, tetapi dituduhkan yang macam-macam. Ada kebijakan yang diambil untuk kepentingan bersama, tetapi disalahmengerti. Esensi masalah belum ditangkap, orang yang mendengarnya telah kebakaran jenggot, bahkan mengambil reaksi yang tidak pas. Mereka pun sangat menyayangkan, orang yang berkepentingan (baca: yang punya masalah), tidak mengungkapkan secara langsung kepada para aktivis itu, tetapi menceritakan ke mana-mana. Ke orang-orang senior. Ke pendeta. Ke orang-orang yang tidak kompeten dan yang tidak mempunyai keterkaitan dengan masalah tersebut.

Singkat kata, kata orang Jawa, kriwikan dadi grojogan, atau pancuran segera menjadi air terjun. Masalah kecil pun menjadi besar. Celakanya, esensi masalah menjadi semakin kabur. Jika masalah telah menjadi besar, bak benang kusut, amat susah dirunut mana ujung dan pangkalnya, dan diurai sehingga menjadi benang yang dapat digulung kembali dengan rapi. Sudah telanjur, banyak orang yang tahu. Dan semakin banyak orang yang tahu, maka semakin terdistorsilah kabar yang diterus-tularkan dari satu orang ke pihak orang lain.

Saya merenung, memang sudah kecenderungan orang, kalau mau juga boleh ditambahkan “orang berdosa” untuk menyembunyikan diri (to hide) dan kemudian menyalahkan orang lain (to hurl). Hiding and Hurling adalah permainan yang paling senang dimainkan di antara jemaat. Orang merasa diri mereka benar dan orang lain yang salah. Orang lain itulah yang sangat merugikan kita. Kita meminta suaka dari orang lain, yang sekiranya dapat memihak kita dan turut menyerang orang yang kita anggap bersalah kepada kita. Kita sendiri tidak berani menghadapi orang yang bermasalah dengan kita. Kita lebih nyaman bersembunyi di ketiak orang lain.

Bila masalah menjadi besar, dan akhirnya kita dikonfrontir, untuk membenarkan diri dan menyembunyikan diri kita (hiding), kita mengatakan bahwa kita tidak pernah mengatakan seperti itu atau kita tidak pernah menceritakan kepada orang lain. Dengan demikian, orang lain yang salah (hurling).

Celaka kini di pihak yang dipersalahkan. Orang yang bermasalah itu tidak berani mengadakan perjumpaan, tetapi di sisi lain sudah membangun kubu pertahanan dan pasukan siap siaga. Ketika dikonfrontir akar masalahnya, ia mengelak. Apa sih sebenarnya kemauan orang itu? Sangatlah dapat dipahami bila orang kemudian kian malas untuk mengambil bagian dalam pelayanan: Sudah sukarela, tidak dihargai, tidak ada pujian, banyak tuntutan, sering tombok, masih saja dicaci-maki.

Apa yang kemudian menjadi reaksi? Ya kalau begitu mundur saja! “Kalau ini dianggap kesalahan saya, lebih baik saya meletakkan jabatan.” Tetapi apakah mengundurkan diri adalah sikap yang bertanggung jawab?

Adalah tidak sepadan bila dibandingkan dengan para pejabat negeri kita yang memang jelas-jelas bersalah, dan menggemukkan diri sendiri dengan kekayaan negara, meski tidak becus dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan tugas dan wewenangnya, namun tidak mau bertanggung jawab dengan meletakkan jabatan. Mereka digaji besar dan mendapatkan privilese-privilese. Mereka sebenarnya harus menyadari ada anak bangsa yang lebih kompeten daripadanya!

Namun, bila ini terjadi di kalangan pelayan dan aktivis gereja, masalahnya berbeda. Hukum pelayanan adalah, barangsiapa mau melayani, hendaklah tidak mengharapkan tepuk tangan dan sorak sorai dari surga dan bumi. Kristus berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku tetapi tidak mengangkat salibnya, ia tidak layak bagi-Ku!” Perhatikan “salibnya”! Masing-masing orang punya salibnya sendiri. Sama seperti Kristus, yang tidak bersalah, tetapi dipersalahkan, demikian pula orang-orang yang mau mengikut Dia. Mereka dipersalahkan. Mereka harus menanggung salibnya sendiri. Mereka dicemooh dan dicaci bukan karena kesalahan mereka.

Dapatkah mereka mundur di tengah tugas mereka? Kristus akan berkata, “ia tidak layak bagi-Ku.” Bukankah dengan demikian, mundur dari pelayanan, atau tidak menyelesaikan tugas yang diberikan, berarti menghindar dari panggilan kemuridan yang Kristus berikan? Mungkinkah seseorang yang menanggung salib dapat berbalik dan mundur? Tidak. Tidak akan pernah!

Tuhan mengingatkan, bahwa Kerajaan Allah yang sekarang ini telah dimulai sejak kedatangan-Nya di dunia, terdiri dari gandum dan ilalang. Ternyata, ilalang dan gandum itu dibiarkan bertumbuh, dan baru kemudian dipisahkan pada masa penghakiman. Ya, baru pada kesudahan zaman! Bayangkan, Tuhan memang tidak berniat untuk memangkas ilalang itu sekarang! Domba dan kambing ada di dalam Kerajaan Allah! Jadi, tantangan pasti ada, dan selalu akan ada. Luther mengatakan bahwa di dalam gereja ada orang yang dibenarkan dan ada orang yang tidak dibenarkan. Bahkan orang benar pun masih tetap simul iustus et peccator! Orang benar sekaligus orang berdosa.

Sangatlah mungkin, kesalahpahaman dan miskomunikasi terjadi. Masih dimungkinkan, sakit hati dan saling terluka. Gereja tidak pernah sempurna. Menghendaki kesempurnaan gereja berarti kita telah tutup usia dan ada di surga.

Apakah Anda pernah terluka ketika melayani Tuhan? Jangan-jangan Anda malahan sedang terluka saat ini? Anda berpikir untuk mundur sekarang? Tetapi izinkan saya bertanya lebih spesifik, pernahkah Anda menyakiti orang lain? Atau, secara sadar atau tidak, tutur kata dan sikap Anda telah menyinggung orang lain? Jika demikian, mengapa hendak mundur sekarang?

Tantangan selalu ada. Hanya ada satu hal yang jelas: Tuhan menghendaki kita mengangkat salib kita sampai kita disalibkan! Hendaklah tidak ada kata mundur di mulut kita. Maju, sampai mati. Surat Ibrani 12:4 menasihati kita, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah!” Camkan pula ayat 11, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Adalah sulit untuk menuntut orang lain untuk berubah. Mulailah dari diri sendiri. Bertahanlah! Dan terus upayakan untuk mengerjakan tugas dan bagian pelayanan kita sebaik-baiknya. Biarlah hasil kerja kita itu transparan dan dapat dievaluasi. Berikan yang terbaik untuk komunitas orang beriman. Firman Tuhan selanjutnya mengingatkan, “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibr. 12:12-13).

Beranikah kita juga belajar menjadi sahabat bagi orang lain? Dalam bahasa Latin, sahabat disebut companio. Menarik sekali kata ini; berasal dari kata cum artinya “bersama” dan panis, “roti.” Jadi cum + panis berarti “roti kepunyaan bersama.” Companio berarti berbagi roti. Seseorang yang mau menjadi sahabat berarti mau berbagi milik dengan orang lain. Komunitas Kristen mula-mula meneladankan, “Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis. 2:42, 46), lalu “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (2:44 bdk. 4:32). Persahabatan pun akan mengguratkan gaya hidup yang berbeda bila ada masalah: Tidak menyimpannya atau memperkatakan di balik punggung, tetapi segera menyelesaikan dengan yang bersangkutan.

Apabila tiap orang dalam komunitas beriman memulai segala hal yang baik dari dirinya sendiri, dan membuang yang buruk dari dirinya, kehidupan persekutuan akan menjadi berbeda. Hidup. Menyenangkan. Menggairahkan untuk melayani. Mencerahkan masa depan. Semoga kerinduan ini tercipta dalam komunitas kita. Tuhan memberkati. Tepujilah Allah!

Nindyo Sasongko, 10 Maret 2009

March 13, 2009 at 12:56 am Leave a comment

MATA

Mata merupakan bagian tubuh yang dapat membawa kita pada kebaikan dan penyesatan. Karena itu Tuhan Yesus berkata: jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu (Mat.5:29).

Hawa tak mampu menahan diri, ketika dia melihat buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan. Dari melihat yang dikuasai keinginan menjadi sama dengan Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat, mendorong tangan untuk memetik buah itu dan memakannya. Mata telah menyesatkan Hawa, sehingga tak mampu lagi mengontrol pikiran yang sedang liar berimajinasi. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat.6:22-23).

Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka (Amsal 4:25). Saat mata dan mata hati kita terfokus pada jalan yang benar, maka kita tidak tersesat. Kata Yesus: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh.14:6a). Saat mata tetap terfokus pada Yesus, maka kita akan berjalan dalam kebenaran dan hidup.

Saat ini ada banyak orang yang tersesat dan menyesatkan diri. Pandangan matanya tidak lagi pada jalan kebenaran yang sesungguhnya. Saat ini orang berlomba-lomba menjadi jalan bagi dirinya dan orang lain. Dia menjadikan dirinya kebenaran dan ukuran kebenaran itu sendiri. Saat orang lain berjalan tidak di jalan kebenaran yang dia anggap benar, maka orang itu menjadi musuh yang harus dileyapkan. Saat ini terjadi, mata hati kita pun menjadi buta, tidak ada lagi hati yang peduli, yang ada kecurigaan bertumbuh subur.

Setetes embun yang menyegarkan jiwa akan menetes, saat kita mau berkata pada diri sendiri: “Aku mau menjadi sesama bagi yang lain” dan mangarahkan mata pada setiap orang dan berkata: “Dia sesamaku yang juga diciptakan Tuhan untuk mewujudkan kepedulian dalam hidup ini.”

ESTK

March 12, 2009 at 8:46 am 2 comments

Pelatihan PowerPoint Tim Multimedia – LCD (Gel. 1)

Minggu dan Senin kemarin (8 dan 9 Maret 2009), bertempat di Laboratorium Komputer SMP Kristen Indonesia, Tim Multimedia – LCD GKI Pajajaran Magelang yang diketuai Bp. Natanael Sani Setyadi telah melaksanakan Pelatihan PowerPoint (dan Pengenalan EasyWorship) bagi para jemaat yang berminat belajar serta rindu terlibat dalam pelayanan di Tim Multimedia – LCD. Acara pelatihan ini sendiri telah dipersiapkan dengan baik oleh satu panitia kecil yang diketuai oleh Sdr. Ongky H.

Pelatihan terbagi menjadi dua pertemuan di kedua hari yang berbeda tersebut dengan materi Pengenalan Hardware dan Instalasi Peralatan LCD serta Pengenalan Dasar-Dasar PowerPoint 2007 di hari pertama yang disampaikan oleh Sdr. Ongky dan Sdr. Deddy W S. Di hari kedua, peserta diperkenalkan dengan materi Teks, Objek dan Animasi serta Layout dan Typografi yang disampaikan oleh Sdr. Daniel K, selain juga mereka diperkenalkan software Easy Worship oleh Bp. Donny.

Pelatihan berjalan dengan baik, dan peserta (yang terdiri dari 10 orang) nampak antusias untuk mengikuti pelatihan ini. Bagi jemaat yang tidak mengikuti pelatihan ini namun berminat untuk mengikuti pelatihan yang sejenis, bisa menunggu pelatihan gelombang kedua selanjutnya.

Berikut beberapa foto yang berhasil diambil.

p3090032

p3090029

img_0420

Tuhan memberkati.

March 10, 2009 at 3:17 am Leave a comment

Selamat Datang!

Selamat datang di blog resmi GKI Pajajaran Magelang.

Temukan ringkasan kotbah, berita terbaru, liputan kegiatan, dan artikel sharing serta materi yang lain di blog ini.

Anda juga dapat memberikan komentar untuk setiap artikel yang diterbitkan di blog ini.

Tuhan memberkati!

March 6, 2009 at 4:10 am Leave a comment


Komentar terbaru

Edward Manalu on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
abraham on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
Eka Setiawan on MATA
tori on MATA

Arsip artikel

Kalender

May 2018
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031