Posts filed under ‘RENUNGAN’

BANGGA DAPAT MEMBASUH KAKI ORANG LAIN (renungan Kamis Putih, 9 April 2009)

Bacaan: Yohanes 13:1-17

Saat akan membanyar parkir, saya sempat bertanya dengan tukang parkir itu: ”Mas, sudah nyontreng?” ”Saya golput kok.” katanya. ”Lho… kok golput?” tanya saya. Dia menjawab: ”Ya… kalau ikut milih, ya tetap jadi tukang pakir, ndak milih pun tetap jadi tukang parkir, percuma aja deh. Dulu untuk milih saya dapat duit dua puluh lima ribu rupiah, sekarang ndak dapat apa-apa mas. Jadi malas, mending markir.” Saya kira dia tahu, apa yang harus dia lakukan sebagai warga negara yang sudah memiliki hak pilih, karena pertimbangan untung-rugi maka dia memilih tidak memilih, alias golput.

Sering kita tahu, bahwa ini salah dan itu yang benar. Tetapi mengapa yang kita lakukan justru yang salah? Saya tidak mengatakan bahwa golput itu salah, karena golput merupakan sebuah pilihan. Dalam banyak kasus, kita tahu itu yang benar, tetapi dengan sengaja kita memilih yang salah. Ya… ada banyak pertimbangan tentunya: mungkin malas, gengsi, merasa jijik atau pertimbangan untung-rugi.

Menjelang Paskah, Yesus kembali diperhadapkan dengan pilihan: terus untuk taat pada kehendak Bapa, atau mundur saja. Kalau terus berarti menyongsong kesengsaraan, direndahkan dan mati dengan cara tidak terhormat, bahkan mati dengan cara sangat terhina sesuai hukuman yang berlaku pada zamannya. Yesus memilih yang benar, karena itu disaksikan di Filipi 2:8-11 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Melalui perendahan diri, Yesus mendapat kemuliaan.

Berarti sebelum peristiwa pembasuhan kaki, Tuhan Yesus pun sudah tahu bahwa kemuliaan yang akan Dia dapat sudah dekat. Kesadaran demikian mungkin membuat Dia merasa bangga. Tetapi hal yang luar biasa ditunjukkan pada manusia, di saat kebanggaan tertinggi akan Dia dapatkan, justru di saat itulah Dia merendahkan diri sedalam-dalamnya. Itulah cinta kasih yang sesungguhnya. Terkadang orang merasa terlalu terhormat untuk melakukan hal-hal yang rendah, merasa terlalu penting untuk melakukan tugas-tugas yang kasar. Tidaklah demikian dengan Yesus. Dia tahu bahwa Dia adalah Tuhan segala sesuatu, namun demikian Dia membasuh kaki murid-muridNya. (Willian Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Yohanes ps. 8-21)

Tuhan Yesus tidak merasa jijik dan rugi, sekalipun Dia harus membasuh kaki murid-muridNya. Kita tidak tahu, seberapa kotor dan baunya kaki dari murid-murid itu, tetapi hal itu tidak dipikirkan. Ia bangkit, menanggalkan jubahNya. Ia tidak ingin, dalam melanyani, ada pembatas antara guru dan murid. Melayani itu sebuah inisiatif mendahului memberi dalam perbuatan kasih yang paling hina sekalipun menurut ukuran manusia. Yesus mengambil sehelai kain lenan, mengikatkannya pada pinggaNya dan menuangkan air di baskom. Yesus tidak mengambil tongkat komando, untuk menggerakkan massa melawan mereka yang tidak setuju dengan kelompokNya. Ia mengambil barang yang sederhana dan bisa didapat untuk memberi pelayanan yang manusia enggan melakukannya. Tuhan Yesus bukan saja membasuh kaki, tetapi juga menyekanya hingga bersih. Sebuah tindakan pelayanan hingga tuntas.

Saat ini, ada banyak yang menuntut kepedulian kita. Mereka yang tidak sempat mencuci kaki apalagi merawatnya, mereka yang tidak memiliki waktu cukup untuk memijatkan kakinya karena selalu dituntut untuk menggerakkan kakinya demi sesuap nasi. Mereka yang bingung kemana lagi kaki ini harus dilangkahkan, karena tempat tinggal mereka telah digusur atau hancur karena bencana. Dan saat kita tahu yang benar, serta dilakukan dengan hati yang tulus, itulah bentuk pelayanan yang akan mampu menggetarkan hati untuk makin percaya pada Tuhan Yesus.

Makin kita dekat dengan Tuhan, makin rindu dan nyata tindakan kita berbuat kasih dalam kehidupan ini.

ESTK

April 9, 2009 at 3:36 am Leave a comment

MUNDUR SAJA!

(Artikel ini ditulis oleh Bp. Nindyo Sasongko, pengerja di GKMI Kudus dan diambil dari blognya [dengan persetujuan terlebih dahulu dari Pak Nindyo]. Terima kasih Pak Nindyo.).

Sebagai bagian dari Tim Gembala Jemaat, hari-hari ini saya banyak mendengar keluhan dari para aktivis. Disebut aktivis, karena mereka memang aktif dalam mengambil bagian dalam pelayanan tertentu. Kebanyakan mereka tidak digaji. Secara sukarela mereka melayani. Kalaupun menerima ucapan terima kasih, tidak cucuk dengan yang dikerjakan sebagai tenaga kerja. Seandainya dianggap gaji, gaji itu amat sangat minim sekali. Namun di pihak lain, tuntutan kerja dan tanggung jawab begitu besar. Mereka bahkan harus tekor, mengeluarkan uang ekstra.

Yang paling tidak menyenangkan adalah, mereka dipersalahkan. Yang sebenarnya bukan maksud mereka, tetapi dituduhkan yang macam-macam. Ada kebijakan yang diambil untuk kepentingan bersama, tetapi disalahmengerti. Esensi masalah belum ditangkap, orang yang mendengarnya telah kebakaran jenggot, bahkan mengambil reaksi yang tidak pas. Mereka pun sangat menyayangkan, orang yang berkepentingan (baca: yang punya masalah), tidak mengungkapkan secara langsung kepada para aktivis itu, tetapi menceritakan ke mana-mana. Ke orang-orang senior. Ke pendeta. Ke orang-orang yang tidak kompeten dan yang tidak mempunyai keterkaitan dengan masalah tersebut.

Singkat kata, kata orang Jawa, kriwikan dadi grojogan, atau pancuran segera menjadi air terjun. Masalah kecil pun menjadi besar. Celakanya, esensi masalah menjadi semakin kabur. Jika masalah telah menjadi besar, bak benang kusut, amat susah dirunut mana ujung dan pangkalnya, dan diurai sehingga menjadi benang yang dapat digulung kembali dengan rapi. Sudah telanjur, banyak orang yang tahu. Dan semakin banyak orang yang tahu, maka semakin terdistorsilah kabar yang diterus-tularkan dari satu orang ke pihak orang lain.

Saya merenung, memang sudah kecenderungan orang, kalau mau juga boleh ditambahkan “orang berdosa” untuk menyembunyikan diri (to hide) dan kemudian menyalahkan orang lain (to hurl). Hiding and Hurling adalah permainan yang paling senang dimainkan di antara jemaat. Orang merasa diri mereka benar dan orang lain yang salah. Orang lain itulah yang sangat merugikan kita. Kita meminta suaka dari orang lain, yang sekiranya dapat memihak kita dan turut menyerang orang yang kita anggap bersalah kepada kita. Kita sendiri tidak berani menghadapi orang yang bermasalah dengan kita. Kita lebih nyaman bersembunyi di ketiak orang lain.

Bila masalah menjadi besar, dan akhirnya kita dikonfrontir, untuk membenarkan diri dan menyembunyikan diri kita (hiding), kita mengatakan bahwa kita tidak pernah mengatakan seperti itu atau kita tidak pernah menceritakan kepada orang lain. Dengan demikian, orang lain yang salah (hurling).

Celaka kini di pihak yang dipersalahkan. Orang yang bermasalah itu tidak berani mengadakan perjumpaan, tetapi di sisi lain sudah membangun kubu pertahanan dan pasukan siap siaga. Ketika dikonfrontir akar masalahnya, ia mengelak. Apa sih sebenarnya kemauan orang itu? Sangatlah dapat dipahami bila orang kemudian kian malas untuk mengambil bagian dalam pelayanan: Sudah sukarela, tidak dihargai, tidak ada pujian, banyak tuntutan, sering tombok, masih saja dicaci-maki.

Apa yang kemudian menjadi reaksi? Ya kalau begitu mundur saja! “Kalau ini dianggap kesalahan saya, lebih baik saya meletakkan jabatan.” Tetapi apakah mengundurkan diri adalah sikap yang bertanggung jawab?

Adalah tidak sepadan bila dibandingkan dengan para pejabat negeri kita yang memang jelas-jelas bersalah, dan menggemukkan diri sendiri dengan kekayaan negara, meski tidak becus dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan tugas dan wewenangnya, namun tidak mau bertanggung jawab dengan meletakkan jabatan. Mereka digaji besar dan mendapatkan privilese-privilese. Mereka sebenarnya harus menyadari ada anak bangsa yang lebih kompeten daripadanya!

Namun, bila ini terjadi di kalangan pelayan dan aktivis gereja, masalahnya berbeda. Hukum pelayanan adalah, barangsiapa mau melayani, hendaklah tidak mengharapkan tepuk tangan dan sorak sorai dari surga dan bumi. Kristus berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku tetapi tidak mengangkat salibnya, ia tidak layak bagi-Ku!” Perhatikan “salibnya”! Masing-masing orang punya salibnya sendiri. Sama seperti Kristus, yang tidak bersalah, tetapi dipersalahkan, demikian pula orang-orang yang mau mengikut Dia. Mereka dipersalahkan. Mereka harus menanggung salibnya sendiri. Mereka dicemooh dan dicaci bukan karena kesalahan mereka.

Dapatkah mereka mundur di tengah tugas mereka? Kristus akan berkata, “ia tidak layak bagi-Ku.” Bukankah dengan demikian, mundur dari pelayanan, atau tidak menyelesaikan tugas yang diberikan, berarti menghindar dari panggilan kemuridan yang Kristus berikan? Mungkinkah seseorang yang menanggung salib dapat berbalik dan mundur? Tidak. Tidak akan pernah!

Tuhan mengingatkan, bahwa Kerajaan Allah yang sekarang ini telah dimulai sejak kedatangan-Nya di dunia, terdiri dari gandum dan ilalang. Ternyata, ilalang dan gandum itu dibiarkan bertumbuh, dan baru kemudian dipisahkan pada masa penghakiman. Ya, baru pada kesudahan zaman! Bayangkan, Tuhan memang tidak berniat untuk memangkas ilalang itu sekarang! Domba dan kambing ada di dalam Kerajaan Allah! Jadi, tantangan pasti ada, dan selalu akan ada. Luther mengatakan bahwa di dalam gereja ada orang yang dibenarkan dan ada orang yang tidak dibenarkan. Bahkan orang benar pun masih tetap simul iustus et peccator! Orang benar sekaligus orang berdosa.

Sangatlah mungkin, kesalahpahaman dan miskomunikasi terjadi. Masih dimungkinkan, sakit hati dan saling terluka. Gereja tidak pernah sempurna. Menghendaki kesempurnaan gereja berarti kita telah tutup usia dan ada di surga.

Apakah Anda pernah terluka ketika melayani Tuhan? Jangan-jangan Anda malahan sedang terluka saat ini? Anda berpikir untuk mundur sekarang? Tetapi izinkan saya bertanya lebih spesifik, pernahkah Anda menyakiti orang lain? Atau, secara sadar atau tidak, tutur kata dan sikap Anda telah menyinggung orang lain? Jika demikian, mengapa hendak mundur sekarang?

Tantangan selalu ada. Hanya ada satu hal yang jelas: Tuhan menghendaki kita mengangkat salib kita sampai kita disalibkan! Hendaklah tidak ada kata mundur di mulut kita. Maju, sampai mati. Surat Ibrani 12:4 menasihati kita, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah!” Camkan pula ayat 11, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Adalah sulit untuk menuntut orang lain untuk berubah. Mulailah dari diri sendiri. Bertahanlah! Dan terus upayakan untuk mengerjakan tugas dan bagian pelayanan kita sebaik-baiknya. Biarlah hasil kerja kita itu transparan dan dapat dievaluasi. Berikan yang terbaik untuk komunitas orang beriman. Firman Tuhan selanjutnya mengingatkan, “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibr. 12:12-13).

Beranikah kita juga belajar menjadi sahabat bagi orang lain? Dalam bahasa Latin, sahabat disebut companio. Menarik sekali kata ini; berasal dari kata cum artinya “bersama” dan panis, “roti.” Jadi cum + panis berarti “roti kepunyaan bersama.” Companio berarti berbagi roti. Seseorang yang mau menjadi sahabat berarti mau berbagi milik dengan orang lain. Komunitas Kristen mula-mula meneladankan, “Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis. 2:42, 46), lalu “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (2:44 bdk. 4:32). Persahabatan pun akan mengguratkan gaya hidup yang berbeda bila ada masalah: Tidak menyimpannya atau memperkatakan di balik punggung, tetapi segera menyelesaikan dengan yang bersangkutan.

Apabila tiap orang dalam komunitas beriman memulai segala hal yang baik dari dirinya sendiri, dan membuang yang buruk dari dirinya, kehidupan persekutuan akan menjadi berbeda. Hidup. Menyenangkan. Menggairahkan untuk melayani. Mencerahkan masa depan. Semoga kerinduan ini tercipta dalam komunitas kita. Tuhan memberkati. Tepujilah Allah!

Nindyo Sasongko, 10 Maret 2009

March 13, 2009 at 12:56 am Leave a comment

MATA

Mata merupakan bagian tubuh yang dapat membawa kita pada kebaikan dan penyesatan. Karena itu Tuhan Yesus berkata: jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu (Mat.5:29).

Hawa tak mampu menahan diri, ketika dia melihat buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan. Dari melihat yang dikuasai keinginan menjadi sama dengan Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat, mendorong tangan untuk memetik buah itu dan memakannya. Mata telah menyesatkan Hawa, sehingga tak mampu lagi mengontrol pikiran yang sedang liar berimajinasi. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat.6:22-23).

Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka (Amsal 4:25). Saat mata dan mata hati kita terfokus pada jalan yang benar, maka kita tidak tersesat. Kata Yesus: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh.14:6a). Saat mata tetap terfokus pada Yesus, maka kita akan berjalan dalam kebenaran dan hidup.

Saat ini ada banyak orang yang tersesat dan menyesatkan diri. Pandangan matanya tidak lagi pada jalan kebenaran yang sesungguhnya. Saat ini orang berlomba-lomba menjadi jalan bagi dirinya dan orang lain. Dia menjadikan dirinya kebenaran dan ukuran kebenaran itu sendiri. Saat orang lain berjalan tidak di jalan kebenaran yang dia anggap benar, maka orang itu menjadi musuh yang harus dileyapkan. Saat ini terjadi, mata hati kita pun menjadi buta, tidak ada lagi hati yang peduli, yang ada kecurigaan bertumbuh subur.

Setetes embun yang menyegarkan jiwa akan menetes, saat kita mau berkata pada diri sendiri: “Aku mau menjadi sesama bagi yang lain” dan mangarahkan mata pada setiap orang dan berkata: “Dia sesamaku yang juga diciptakan Tuhan untuk mewujudkan kepedulian dalam hidup ini.”

ESTK

March 12, 2009 at 8:46 am 2 comments


Artikel Terbaru

Komentar terbaru

Edward Manalu on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
abraham on PENGEMBANGAN PELAYANAN GEREJA…
Eka Setiawan on MATA
tori on MATA

Arsip artikel

Kalender

September 2014
M T W T F S S
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.